BELANDA dan AIR
Tema : Air
Sesuatu yang dirasa tidak mungkin, ternyata dapat dilakukan dan benar-benar
dibuktikan oleh Belanda. Bagaimana tidak? Pada tanggal 1 Januari 1986 Belanda
memproklamirkan provinsi baru, yaitu Flevoland sebagai provinsi ke-12, dengan
luas area 2.412,30 km2 (5,8% dari total luas wilayah Belanda) yang terdiri
dari 1,419 km2
daratan dan 993 km2 perairan. Provinsi tersebut tidak hadir serta merta dari wilayah yang sudah
terbentang atau mengambil wilayah negara tetangga, yaitu Germany and Belgium, melainkan
lahir dari proses reklamasi tanah di Zuiderzee. Satu abad lalu, Flevoland
hanyalah sepetak air
di Zuiderzee.
Belanda dikenal sebagai negara yang memiliki topografi dataran
rendah dan negara yang melakukan reklamasi tanah yang disebut polder. Sebagian
wilayah Belanda merupakan hasil polder di bawah permukaan air laut, hal ini
dimaksudkan untuk memperluas wilayah daratan. Selain itu, terdapat tanggul yang
dibangun guna mengantisipasi banjir kiriman dari laut. Upaya tersebut dilakukan
Belanda untuk mengembangkan negaranya.
Polder adalah daerah yang memiliki dataran rendah yang tertutup
oleh tanggul (bendungan) yang membentuk suatu entitas hidrologi buatan. Ada
tiga jenis polder:
1.
Reklamasi
tanah dari wilayah perairan, seperti danau atau laut.
2.
Dataran
rentan banjir dipisahkan dari laut atau sungai dengan tanggul.
3. Rawa
dipisahkan dari air disekitarnya yang dibatasi dengan tanggul, kemudian
dikeringkan.
Belanda membangun Flevoland dengan cara reklamasi tanah, yang
mulanya diupayakan dengan membangun tanggul di Zuiderzee agar air laut tidak
masuk kembali. Setelah tanggul dibangun, kanal dan pompa digunakan untuk mengeringkan
tanah serta menjaga agar tanah tetap kering. Tanah baru tersebut yang
menyebabkan penciptaan provinsi baru, Flevoland, yang sebenarnya merupakan wilayah
perairan selama berabad-abad sebelumnya.
Belanda telah melakukan polder pada beberapa wilayah di negaranya.
Berikut merupakan beberapa daerah beserta keterangan tahun pengeringan
lahannya, yang telah dibangun Belanda melalui proses polder: Beemster (1609-1612),
Haarlemmermeerpolder (1852), dan beberapa bagian dari Zuiderzee, yaitu:
Wieringermeerpolder (1930), Noordoostpolder (1942), dan Flevopolder
(1956/1966). Flevopolder merupakan sebutan untuk daerah Flevoland, yang
merupakan hasil reklamasi. Bagian timur dan selatan Flevoland masing-masing
dikeringkan pada tahun 1955 dan tahun 1968.
Polder dilakukan Belanda pada beberapa wilayah di negaranya, karena
secara geografis sekitar 20%
wilayah Belanda merupakan dataran rendah, 21% berada di bawah permukaan air laut,
dan 50% berada pada ketinggian kurang dari satu meter di
atas permukaan air laut. Minimnya daratan serta antisispasi datangnya
banjir karena dataran yang rendah dengan ketinggian hanya kurang
dari satu meter di atas permukaan
air laut, membuat Belanda berusaha keras untuk menahan air laut agar
tidak mengikis wilayah daratannya, serta berusaha memperluas wilayahnya dari
laut utara.
Inovasi yang telah dilakukan Belanda pada sektor perairan, dengan
menjadikannya daratan melalui proses polder, membuat negara tersebut dapat
memperluas wilayah daratannya. Inovasi ini menghasilkan output yang
besar, sebagai penggerak ekonomi masyarakat Belanda khususnya di daerah polder.
Sejarah Flevoland sebagai daerah polder, dimulai dari pernyataan yang diucapkan
oleh Ratu Belanda Wilhelmina, selama pidatonya pada September 1913: “I consider
it time to initiate the enclosure and reclamation of the Zuiderzee. This will
result in an improvement to the water management infrastructure of the
surrounding provinces, expansion of the habitable land area and a permanent
increase in employment”. Kini pernyataan tersebut telah dibuktikan dan dapat
dirasakan manfaatnya oleh penduduk daerah hasil reklamasi Zuiderzee, salah
satunya adalah Flevoland yang memiliki sekitar 395,525 penduduk, yang merupakan
2,4% dari total penduduk Belanda. Gross Regional Domestic Product (GRDP)
atau hasil laba kotor produk daerah Flevoland adalah €9 .8b (1,7% dari hasil laba
kotor Belanda). Tingkat pertumbuhan tahunan hasil laba kotor produk daerah
Flevoland adalah 3,3% di periode 2005-2010, hasil tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan
rata-rata di Belanda (2,8%). Tingkat ketenagakerjaan tertinggi di Flevoland,
yaitu pada sektor publik (20,8%), diikuti oleh grosir dan perdagangan ritel,
transportasi, akomodasi dan kuliner (18,8%). Sedangkan tingkat pekerjaan terendah,
berada pada sektor keuangan dan asuransi (2,3%), serta sektor pertanian, perburuan,
kehutanan dan perikanan (2,1%). Almere dan Lelystad merupakan kota terbesar di
Flevoland, yang juga termasuk dalam tujuh kota terbesar di Belanda. Kedua kota tersebut
memiliki laju pertumbuhan penduduk yang tergolong cepat di Belanda, yaitu
masing-masing hampir mencapai 200.000 jiwa dan 75.000 jiwa.
Kemampuan Belanda berinovasi dalam memperluas wilayahnya melalui
proses polder agar warga negaranya lebih makmur, serta membuat wilayah
negaranya lebih berkembang sudah diakui dimata dunia. Daerah yang mulanya merupakan
perairan, disulap oleh Belanda menjadi daratan. Ini merupakan inovasi yang
sungguh tidak diragukan lagi kehebatannya. Dengan demikian, suatu saat nanti tidak
mustahil jika Belanda mampu menggebrak kembali dunia dengan inovasi terbarunya,
semisal rekayasa iklim. Hal ini kembali dimaksudkan untuk memakmurkan warga
negara serta memajukan perekonomian sebuah negara.
Iklim merupakan kumpulan variasi musim sebagai kesatuan dalam waktu
yang relatif lama baik secara lokal, regional atau meliputi seluruh bumi. Iklim
dapat mengalami perubahan dari beberapa aspek seperti orbit bumi, perubahan
samudera atau keluaran energi matahari. Iklim tentunya menjadi salah satu momok
besar pada beberapa sektor bisnis, yang proses bisnisnya bergantung pada musim tertentu.
Musim yang tak menentu sering kali membuat para pelaku bisnis kesusahan dalam melakukan
proses dan menentukan target bisnis. Semisal pada sektor pertanian, hujan yang
tidak dapat dipastikan akan turun pada rentang bulan tertentu, kadang datang
lebih awal atau sebaliknya melewati batas normal, hal ini akan mengganggu prakiraan
jadwal pembibitan dan jadwal panen. Jika intensitas hujan berlebih dan dalam
jangka waktu panjang, maka dapat mengakibatkan terjadinya banjir, sehingga
mengakibatkan gagal panen. Sebaliknya, jika hujan tidak kunjung turun, juga
akan mengakibatkan hal yang sama, yaitu gagal panen karena padi mengering.
Akibat dari gagal panen, tentunya berdampak pada perekonomian
negara yang terganggu dengan menurunnya pasokan beras. Petani sebagai pelaku
bisnispun mengalami kerugian atas kegagalannya memanen padi. Secara logika
ekonomi, jika penawaran menurun sementara permintaan tetap atau bahkan
meningkat, maka hal tersebut akan mengakibatkan harga komoditas naik. Rantai
bisnis ini akan menjangkau semua level, hingga masyarakat biasa sebagai konsumen
pun akan menerima dampak dari hal tersebut berupa kenaikan harga, dikarenakan
kelangkaannya. Jika suatu saat nanti inovasi rekayasa iklim benar dapat
diwujudkan, maka Belanda kembali berinovasi pada salah satu elemen kehidupan,
yaitu udara.
REFERENSI
Komentar
Posting Komentar