Hari ini ibuku tepat berumur 69 tahun (kalau saya ndak salah hitung yaa hehe)
Barakallah fii umrik ibuku sayang, i love you, terima kasih telah menghadirkanku di dunia ini, saya sangat bangga menjadi anak dari wanita baik, kuat, hebat, dan tulus seperti ibu, dan maaf karena belum bisa menjadi anak yang baik untuk ibu, belum bisa membahagiakan ibu. Saya berdoa semoga dengan bertambahnya umur, bertambah pula keberkahan dari Allah untuk ibu. Semoga ibu lebih bisa membuat hari-hari ibu lebih baik, dengan lebih mendekatkan pada Allah.
Ibuku adalah orang yang Allah takdirkan memiliki hati yang mulia, hatinya sangat lembut dan tulus. Sudah banyak bukti, mulai dari bukti terawal dan terbesar yang saya lihat dan rasakan dari beliau. Ketulusannya mau dipoligami, lalu tidak berhenti di situ saja, merawat anak pertama dari istri kedua ayahku dengan sangat baik tanpa ada perbedaan dengan cara beliau merawatku, yang tidak semua wanita mampu melakukannya. Sampai saya pernah merasa ibuku lebih menyayanginya daripada menyayangiku..
Bukti itu kembali muncul, saat hari Minggu kemarin tanggal 20-02-2022 kami berjalan-jalan ke Malioboro. Malioboro kini berubah, pedagang yang biasanya di sepanjang jalan Malioboro sekarang dipindah ke tempat khusus, namanya Teras Malioboro, ada 1 dan 2. Kejadian ini terjadi saat kami di Teras Malioboro 2. Kami dalam perjalanan keluar dari Teras Malioboro 2, bahkan belum sampai pintu gerbang keluarnya, kulihat ibuku mengambil tisu dari dalam tasnya, lalu mengangkat kacamatanya seakan menyeka sesuatu.
Sekilas kupandang wajah ibuku, lalu benar dugaanku, ibuku menitikan air mata..
Kuputuskan untuk berhenti dan duduk sejenak di kursi panjang yang disediakan untuk umum, di pinggiran jalan Malioboro. Selama duduk itu ibu hanya diam dan mengusap matanya dengan tisu berkali-kali, hingga menahan tisu pada bawah matanya.
Saya paham mengapa beliau menitikan air mata cukup lama.
Begitulah ketulusan hati ibuku, beliau menitikan air mata saat melihat ada orang jualan tapi tidak laku atau sepi pembeli. Selain hatinya yang lembut, hal ini mungkin didukung oleh masa lalu ibuku, saat ibuku memulai usaha toko dari 0, dari beberapa barang saja yang dimiliki, dari sepi pembeli, yang kata ibu pernah cerita pembeli di hari pertamanya 1 orang laki-laki, pak siapa gitu, saya lupa namanya. Jadilah beliau sangat mengerti bagaimana susahnya membangun bisnis dari 0, bagaimana saat tidak ada pembeli sama sekali, bagaimana toko sepi, bagaimana duduk dengan perasaan hati yang khawatir serta berharapnya menunggu pembeli datang, namun tak kunjung datang. Saya bisa mencoba memahami apa yang ibuku rasakan kemarin Minggu.
Segala sesuatu saat kita pernah merasakan berada dalam posisi yang sama, maka akan lebih mengerti penderitaan satu sama lain. Akan sangat berbeda sekali jika yang melihat/ mendengar adalah orang yang tidak pernah berada dalam kondisi yang sama.
Mungkin bisa saja mereka mencoba memahami, dan muncul rasa empati, tetapi tidak akan pernah bisa untuk ikut merasakan. Never.
Dari pengalaman sejauh umur saya, hingga 34 tahun saat ini, saya menyimpulkan suatu hal bahwa, orang bijak atau pengertian (berhati lembut), seringkali berangkat dari pengalaman yang sama, karena mereka bisa ikut merasakan, bukan hanya memahami dan empati. Sehingga jauh di lubuk hatinya jika bisa menolong, semampunya berusaha menolong, karena dia tau bahwa, "berada di posisi itu tidaklah nyaman".
Komentar
Posting Komentar