Kemarin menjadi salah satu hari yang paling bersejarah yang membuat mata hati saya terbuka lebar. Melakukan sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sama sekali sebelumnya.
Jualan!
Ya, jualan nasi bungkus, nasi punel khas Bangil Pasuruan, yang di masak oleh mbak ipar saya. Saya bersiap dari pagi, sehabis shubuh mandi, lalu bersama suami ke Palagan mengambil nasi yang sudah siap untuk dijual, pukul 06.02 WIB alhamdulillah kami sudah sampai perempatan Denggung. Nasi yang dibawa enam bungkus, dibawa menggunakan box hitam seperti di gambar.
Pertama, kami coba spot di komplek pemda Sleman, lalu lalang kendaraan bermotor silih berganti, belum juga ada yang menghampiri, sabar.. sabar.. kataku dalam hati sambil tak henti berdoa memohon pada Allah supaya laku. Hampir lama kami menunggu belum juga ada yang datang untuk membeli, ada mbak-mbak datang dari arah belakang kami, menanyakan "jualan apa Mbak..?" saya jawab "nasi punel Mbak". "beli satu Mbak (sambil menyodorkan uang 10 ribuan)" lanjutnya, "oh iya Mbak (sambil saya ambilkan satu bungkus nasi punel dan sendoknya)". Saat saya mau memasukkan ke dalam kresek, mbaknya bilang, "nggak usah dikresek Mbak", "ohh iya Mbak", jawabku. Alhamdulillah kataku dalam hati, saya sangat bersyukur dan senaaang sekali, sudah laku satu. Setelahnya mbaknya masuk ke toko di samping belakang tempat yang kami gunakan sebagai spot jualan, "ohh mbaknya entah pemilik atau bekerja di situ" pikir saya. Begini ya rasanya saat dagangan laku, walau masih satu. Rasanya campur aduk dalam hati saya, yang belum pernah sekalipun saya rasakan selama ini. MasyaAllah Tabarakallah.
Lama berselang.. tak kunjung datang orang yang berlalu lalang di depan kami untuk membeli dagangan kami. Akhirnya kami memutuskan pindah spot. Kami menuju pasar yang berada di gang masuk ke kiri dari jalan Magelang arah menuju Jombor, saya tidak tau namanya pasar apa. Qodarullah sama, di pasar itu pun belum ada yang beli. Saya berdiri di bawah terik matahari pagi. Melihat orang-orang yang juga berdagang, karena memang itu adalah pasar sehingga banyak juga penjual.
Disitulah saya berpikir,
Ya Allah.. ternyata mencari uang memang tidak semudah itu, selama ini saya kurang menghargai uang. Kurang bersyukur, masih selalu merasa kurang. Sudah punya banyak barang, misal baju atau kerudung atau tas atau sandal sepatu, bahkan sekelas cincin emas sekalipun, jika saya menemukan ada model baru, lalu ingin beli, ya langsung beli tanpa berpikir panjang, berapapun harganya, suka ya beli. Sehingga barang-barang menumpuk, bahkan ada barang yang baru saya pakai, setelah saya beli setahun yang lalunya (Astaghfirullah). Kemarin sungguh menjadi tamparan keras bagi saya, betapa kelirunya selama ini sudut pandang saya terhadap penghargaan saya atas uang, karena selama ini, alhamdulillah saya bekerja pada sebuah instansi dengan gaji yang selalu di transfer perbulannya. Saya tidak tau sama sekali bahwa, mencari uang dengan berdagang sehebat ini rasanya, sehebat ini perjuangannya, sehebat ini berharap lakunya, sehebat ini sabarnya, sehebat ini pasrah pada Allah nya, dan se banyak se se se se yang lainnya.. Astaghfirullah Astaghfirullah..
Jam sudah hampir menunjukkan pukul 08.00 WIB yang artinya saya harus sudah berada di kampus. Akhirnya saya meminta suami saya untuk mengantar saya ke kampus. Sesampai di kampus, suami bilang, "sini yang satu saya beli, lainnya tak bawa, tak jual di tempat lain, atau gimana..?", lalu saya bilang, "ini yang masih ada biar saya aja yang bawa, nanti saya tawarkan pada teman dosen". Di depan lobby utama kampus, saat kami sedang bercakap-cakap, lewatlah Kak Rida, lalu saya tawarkan pada Kak Rida, mulanya dia menolak tapi akhirnya alhamdulillah beli juga. Alhamdulillah lega rasanya. Tinggal tiga pikir saya. Masuk ruang dosen langsung menuju ruang Bu Anisa karena di lantai satu dan kebetulan pintunya terbuka, berarti dia ada, saya tawarkan ternyata sudah bawa bekal. Baiklah tidak mengapa belum rezeki. Saya naik ke lantai dua ruangan saya, ternyata saat saya di ruangan Bu Anisa chat, beli satu untuk asdosnya, Alhamdulillah laku satu lagi, jadi tinggal dua. Saya tawarkan pada Pak Endar dan Pak Nowo melalui WA, qodarullah Pak Endar puasa, kalau ndak puasa sebenarnya mau, Alhamdulillah Pak Nowo mau, jadi tinggal satu. Saya tawarkan Pak Sulis, ternyata sedang di karantina untuk mengerjakan akreditasi. Terakhir saya tawarkan Bu Dian, Alhamdulillah dapat respon baik, malah mau beli dua, tapi tinggal satu, Bu Dian mau, lalu langsung saya turun ke lantai satu, karena Bu Dian meminta digantungkan di pintu ruangannya, beliau sedang tidak berada di ruangan. Malahan Bu Dian telpon kalau cocok mau pesan untuk primus (pria mushola) di kampus tiga hihihi. Alhamdulillah tadi malam, Bu Dian WA katanya enak dan cocok, lalu beliau pesan untuk hari Kamis tanggal 25 Mei 2023, pesan empat bungkus untuk primus. Alhamdulillah Alhamdulillah.
Pagi tadi suami saya berjualan sendiri, membawa lima bungkus, laku alhamdulillah tiga bungkus. Dua bungkus dibawa kembali ke Palagan, qodarullah pas ada yang beli dua bungkus di sana. Jadi habis laris manis, semoga barokah aamiin aamiin ya mujibassaailiin..
Ya Allah..
Alhamdulillah terima kasih banyak Engkau telah membuat mata hati saya terbuka.
Sungguh hingga kini saat saya menulis blog ini, perasaan saya masih campur aduk, antara bersyukur dan merasa bersalah atas apa yang telah saya lakukan selama ini.

Komentar
Posting Komentar